PRASASTI PERKUMPULAN PEDAGANG TAMIL DI BARUS SUATU PENINJAUAN KEMBALI
Y. Subbarayalu
Sebuah prasasti Tamil telah di temukan di Lobu Tua, Barus, pada tahun 1873, dan dicatat secara ringkas dalam “Madras Epigraphy Report” tahun 1891 – 1892 oleh E. Hultzsch, seorang ahli epigrafi pemerintah Inggris yang ada di India sebagai berikut:
Berkat jasa Dr. J. Brandes, saya telah menerima dua cetakan dari sebuah prasasti Tamil dari Loboe Toewa, Barus, Sumatra yang tersimpan di koleksi arkeologi Bataviaasch Genootschap Batavia (catalog), hlm. 388, No. 12. Batunya pecah dan rusak; tetapi dari teks yang dapat dibaca, jelas bahwa prasasti ini berangka tahun 1010 Saka (1088 M) dan mencatat sebuah hadiah dari sekumpulan orang yang disebut “seribu lima ratus”. Menarik untuk diperhatikan bahwa bahasa Tamil digunakan dalam dokumen – dokumen umum di Pulau Sumatra pada abad ke – 11 M.
Pada tahun 1933 Prof. K.A. Nilakanta Sastri berdasarkan catatan E. Hultzch menerbitkan sebuah artikel yang berjudul “ A Tamil Merchant - Guild in Sumatra “. Ia meringkas sejarah perkumpulan para pedagang yang biasanya di sebut Ayyavole – Lima Ratus, atau singkatnya Perkumpulan Lima Ratus dari pada isi prsasti Barus. Walaupun demikian uraian ringkas Professor brilian mengenai pentingnya prasasti ini patut diingat yaitu:
Fragmen prasati dari Loboe Toewa berharga untuk di jadikan sebagai bukti yang jelas bahwa aktivitas perdagangan mereka [yaitu perkumpulan para pedagang] telah menyebar ke Sumatra. Mungkin tidak tepat menyimpulkan berdasarkan prasasti ini bahwa bahasa Tamil telah di gunakan dalam dokumen – dokumen umum di Pulau Sumatra pada abad ke 11 M; namun jelas bahwa sekumpulan orang Tamil telah tinggal di Sumatra secara permanen maupun semi permanen, dan termasuk di antaranya tukang – tukang yang mahir mengukir prasasti di atas batu……
Walaupun prasasti ini pendek, terdapat beberapa aspek yang menarik. Cara penanggalan yang menggunakan tahun saka ini sesuai dengan tradisi setempat. Berbeda dengan kebanyakan prasasti Tamil, dari India selatan, tidak ada nama raja yang dirujuk didalamnya. Di Sri Lanka prasasti – prasasti perkumpulan pedagang yang dirujuk kepada raja baik lokal maupun asing. Nama kotanya, yaitu Varocu alias Matankari-vallava-teci-uyyakkonta-pattinam, perlu dijelaskan bahwa Varocu adalah nama Barus dalam bahasa Tamil.
Walaupun prasastinya agak rusak pada tempat itu, bacaan “kasturi” hampir pasti. Kasturi adalah bahan harum yang terkenal, tapi aneh kalau kesturi sendiri yang disebut disini, karena Barus lebih dikenal dengan kampernya, dan kesturi bukan bahan lokal. Mungkin disini kasturi dipakai secara simbolik untuk semua bahan yang harum.
Kandungan prasastinya jelas mendukung usulan Nilakanta Sastri bahwa sekumpulan orang tamil telah tinggal di sumatera secara permanen atau semipermanen. Sebenarnya mereka pedagang yang kedudukannya begitu istimewa sehingga dapat memberikan nama Tamil kepada kota pelabuhan lama Barus.
Prasasti ini juga dapat membantu menjawab pertanyaan yang sejak lama menjadi sumber perebatan, yaitu tenteng lokasi Barus.Tempat ini tercatat dalam sumber-sumber Cina Dinasti Tang dan kemudian terkenal karena pohon kapur barusnya.
SUATU CATATAN PERJALANAN DILAUT CINA DALAM BAHASA ARMENIA
Teks berbahasa Armenia yang diperkenalkan disini dikutip dari sebuah buku kumpulan catatan perjalanan berjudul Nama Kota-Kota India dan Kawasan Pinggiran Persia, yang di kenal melaluidelapan buah naskah , tujuan diantaranya tersipan di Erevan.teks ini sudah beberapa kali diterbitkan yang sudah pernah dicetak ulang sebanyak empat kali. Dalam jilid keempat catalog besar naskah-naskah perpustakaan biara S. Yacobus.
Berdasarkan bahasanya mengunakan bahasa Armenia yang disebut ‘tengah’ dan tahun naskah tertua mungkin penulisnya hidup pada suatu waktu antara abad ke-11 dan 13M.maka tesknya mungkin dari daerah dan jaman cilicia tetapi mungkin sebuah tesk lebih awal di salin atau di rujuknya ,bahwa transkripsi nama tepat tidak seragam disamping transkripsi-transkripsi klasik yang mungkin dipinjam, terdapat transkripsi lain yang kemungkinkan besar dari jaman cilicia bahwa penulis tidak menggunakan bahasa halus membuktikan bahwa catatan perjalanan ini bertujuan praktis ,maka dalam daftar isi buku Livre des mondes disebutkan nama kota di India ; barang -barangnya .
Nama Kota – Kota di India dan Kawasan Pinggiran Persia
Negeri Bumi Emas di namakan Reminzar, karena menghasilkan emas sebanyak yangf di inginkan.Bangsa ini menyembah berhala; mereka bukan orang India.Mereka di namakan Zabedj dan mereka makan daging mayat mereka sendiri. Mereka menganggap orang – orang dari daerah lain yang dapat di tangkap sebagai hasil perburuan; jika mereka berperang melawan suatu bangsa lain dan mereka menang, maka mereka akan makan semua yang mati tertikam. Tetapi pedagang dan pengembara tidak di ganggu karena mereka mendapatkan rezeki dari perdagangan.
Asal usul nama bumi emas, yaitu Reminzar (A,X,B, Ams, C,D,E,Ven,G) “karena banyak emas yang diperoleh darinya”. Dari bentuk kalimat jelas bahwa Reminzar berfungsi sebagai terjemahan dan penjelasan dan dengan demikian dapat juga diduga bahwa teks berbahasa Armenia ini merujuk pada sebuah teks lain dimana Reminzar dapat menjelaskan istilah asing kepada pembaca.
Pada abad ke-10 M, Ma’sudi menulis “Zabadj yang memisahkan cina dan india” dan “Maharaja, Raja Kepulauan Zabadj”.diantara penulis arab (atau Persia) lain biruni menyebut pada paruh pertama abad ke-11 M. raja orang Zabedj bersemayam disebuah kota diselatan. Istilah ini terbentuk genetif jamak, bersama satu alternasi bunyi yang khas untuk bahasa Armenia. Orang Zabedj dari bumi emas yang oleh Finck diduga sebagai orang india “dari bangsa lain”, adalah penduduk Sumatera tetapi kami akan tunjukkan nanti bahwa dari segi politik, bumi tersebut meliputi sebagian dari senanjung melayu yang diduga merupakan lokasi Aurea Chersonesus.
Gerini mengusulkan suatu penjelasan dalam bentuk Rama-bari “Negeri Rama” dan menganggap Ramni sebagai bentuk asalnya. Tibbetts mencatat bahwa sumber-sumber Arab kurang membantu untuk menyimpulkan bahwa kedua nama tempat ini adalah sama, tetapi dapat dipastikan bahwa lokasinya sama. Gerini mengusul Lam-Barih sebagai pelabuhannya, di hulu Sungai Aceh sebelah kanan jika mengarah ke hulu.Usulan ini menentang usulan lokasinya oleh Van der lith di Lamreh, yang meletakkannya di bagian timur Aceh di daerah pedalaman.Usulan van der Lith diterima oleh Cordier, kemudian oleh Teuku Iskandar.
Prasasti Lobu Tua, yang baru diteliti kembali, milik satu kumpulan pedagang yang disebut Lima Ratus,. Dari beberapa sumber diketahui bahwa kumpulan ini berada di 18 kota atau daerah dan 32 pelabuhan. Ia berisi suatu perjanjian tentang pajak masuk yang telah dimaterai sebelumnya dipelabuhan yang terletak di Varocu, sebuah pattinam.
1. Oske Getin atau Oskegetin ( A, B Ams; C, D, Ven., F, G ), “ Bumi Emas “; Oski Getin atau Oskigetin ( A, B, E ), “ Bumi Emas “; Oskegetin ( A ), “ Bumi Emas “.
Oske Getin / Oskegetin merupakan terjemahan dari bahasa Sanskerta Suvarnabhumi “ Bumi Emas “ yang dapat di bandingkan dengan Suvarnadvipa “ Pulau Emas “ sebuah nama tempat yang pernah di identifikasikan sebagai Ceylon ( di namakan Selan ) di India
2. Zapetch ( sic )/ zabedj
Istilah ini di gunakan untuk menamai penduduk Bumi Emas dan tentulah merujuk pada istilah Zabadj, yang di pakai oleh penulis Arab untuk kemaharajaan Maharaja, yaitu kemaharajaan Dinasti Syailendra. Di sini dalam bahasa Armenia di gunakan untuk suatu bangsa Zabidjats t’akaworn ( < Zapitchats t’agoworn ) “ Raja Orang Zabedj “ yang bersemayam di sebuah kota di Selatan.
3. Lambre , Nominatif ( F ), Genetif – datif, Lamr – i; Lamri, Nominatif ( X ), Genetif – datif, Lamr – ou – i; Lamrin, Nominatif ( A, B ) dan Lambr – ou ( Ams., C, D, E, Ven., G )
Istilah ini banyak terdapat dalam sumber Arab dalam bentuk Lamri atau Lamuri ( misalnya Sulayman al –Mahri masih menyebutnya pada abad ke-16 ), tetapi di dahului dengan dengan huruf berlawanan r- Ramin, Ramni, Rami, dan Ram yang di pakai dalam karya Ibn Khordadbih sampai karya Biruni dan sudah lama tempat ini di identifikasikan sebagai ujung utara Sumatra.
4. Pant’chour ( A, X, B, F ); Part’chour ( Ams., C, D, E Ven., G )
Pant’chour, tempat tempat asal kamper yang bermutu, sama dengan Fansur dari Ibn al- Fakih dari Hamadan ( 902 ), dan Mas’udi ( 955 ) dan juga di catat oleh Ibn Said sebagai berikut: “ kota Fansur memberikan namanya kepada kamper yang di sebut Fansuri “. Marcopolo juga merujuk pada tempat yang sama ketika ia membicarakan tentang kerajaan Fansur: “ dari kerajaan inilah di produksi kamper terbaik dunia, yang di sebut kamper Fansuri “.
5. K’rout ( A, X, B, Ams., C, D, E, Ven G ); K’routi ( F )
K’rout atau K’routi, terletak dekat “ Lamri “. Tempat ini bukan sekaligus kota dan pulau tetapi sebuah pulau saja, yang berarti suatu pelabuhan .lokasinya sebelah ujung Aceh, karena sudah memberikan deskripsi dari Lambre / Lamri ke Pant’cour di pantai barat, teksnya di lanjutkan dengan deskripsi arah bertentangan.
6. K’roudayi ( A, X, Ams., C, D, E, Ven., F, G ); K’roudai ( B )
K’roudayi adalah sebuah kota besar yang terletak persis di tepi laut, karena di dekatnya terdapat sebuah pulau bernama Samwi. Kota ini terletak sesudah Lamri jika mengarah ke selat Malaka. Empat buah lembah besar, di sebelah utara danau Laut Tawar dan di sebelah timur denagan sungai ( Krueng ) Peusangan bermula dari daerah gunung Geuredong; di sebelah barat dan timur lembah Krueng Sawang dan lembah Krueng Bidan, sebuah anak sungai Djamboe Aje yangh bermuara di Tanjung Intan dan di antaranya lembah Krueng Pase ( Pasai ) dan nama yang di sebut dalam Hikayat Raja – Raja Pasai dan lembah krueng Keureutoe.
7. Samoui atau Samui ( F ); Samawi ( A, X, B, Ams., C, D, E, Vens., G )
Ini adalah pelabuhan yang ramai dalam perdagangan.Semestinya dalam teluk di mana sungai Pasai dan sungai Keureutoe bermuara di bagian timur.Namun tidak pelabuhan besar di muara kedua sungai.Sejarah Melayu menceritakan bahwa Malikul Tahir ikut krueng Keuruetoe untuk Pasai tanpa mencatat adanya sebuah pelabuhan di tepi laut.
8. Poure ( A, X, B, Ams., C, D, E, Ven., F, G )
Tempat ini di identifikasikan sebagai daerah Peurelak, di selatan Lhokseumawe.Dalam Nagarakertagama tempat ini tertulis Parllak. Tempat ini sama juga dengan Ferlec, kerajaan pertama yang di sebut oleh Marcopolo di antara delapan kerajaan yang di daftarnya di Sumatra. Oleh karena pedagang muslim mengunjunginya, maka semua orang kota sudah masuk islam. Menurut Pelliot nama Ferlec di pengaruhi oleh bahasa Arab. Hikayat Raja – Raja Pasai juga mencatat nama – nama Melayu Perlak pada saat perkawinan Marah Silu / Malikul Saleh dengan putri raja Perlak pada tahun ke-13 M. Gerini juga menduga bahwa nama Perlak berkaitan dengan dengan nama sungai Perak di pantai barat Semenanjung Melayu.
9. P’anes ( X, F ); Ep’anes ( A ); Ep’anis ( B ); Ep’ anes ( Ams., C, D, E, Ven., G )
P’anes merupakan salah satu pelabuhan yang menghasilkan kamper bermutu yang terletak di pantai Timur bawah Peurelak dan tidak lain dari Panai ( pane ), maka namanya juga berakhiran-s. Salah satu dari kedua kuala yang terletak sesudah Tanjung Balai.
10. Lewank ( X ); Lewang ( F ); Lewan ( F )
Kota ini hanya terdapat dalam catatan naskah golongan II.Nampaknya terdapat suatu kekeliruan dalam X mengenai catatan ini. Dalam hal ini K’roudayi, Samui, dan Poure ( yang identifikasikan sebagai Lhokseumawe dan Peurelak ) di gabung. Semestinya catatan ini tertulis sebelum catatan mengenai Panai. Kemudian di sebut di bawah kota yang bernama Lewank yang menghasilkan kamper.
11. Plaoy ( A ); Playo ( X ); Playoy ( A, B, Ams., C, E, Ven., F, G ); Pelayoy ( G ); Playoye (C, F)
Tempat ini tidak terdapat dalam D karena deskripsinya berhenti di Ep’anes.Namun hal ini menunjukkan bahwa teks serupa dengan edisi Amsterdam. Dalam A, istilahnya berakhiran oyyang menjadi o pada zaman itu dan sesuai dengan istilah yang terdapat dalam X.
12. Rambi ( A, B, Ams., C, E, F, Ven., G ); Ramb ( X )
Lokasi ini satu sama lain saling berdekatan atau terletak di satu arah tertentu. Semakin ke Selatan di pantai timur untuk lokasi dari seri yang kedua. Seri ini berakhir dengan Ramb ( i ), sebuah pelabuhan yang bukan terletak di Sumatra tetapi di semenanjung Melayu.
A. Daerah selatan Selat Malaka
Di daerah ini terdapat dua tempat yang menarik di dekat pantainya. Di kaki gunung Rembau terletak kota Rembu sejauh 27 Km dari laut. Tempat ini bukan pelabuhan tetapi namanya serupa dengan Ramb atau Rambi.Dari daerah ini mengalir sungai Rembau yang bermuara di sungai Linggi, kurang dari 10 Km sebelum muaranya.
B. Daerah Utara Selat Malaka
Di perbatasan utara Selat Malaka, Gerini telah telah mengidentifikasikan satu lagi sungai Rambai, anak sungai Sepetang, yang nama sebenarnya adalah sungai Roba.
Daerah di Utara Selat Malaka
Pelabuhan lama ini terletak di ujung sebuah jalan lintas ke Nakhon si Thammarat ( Ligor ) dan berbagai data menunjukkan bahwa adanya hubungan
13. P’ant’chi ( A, B, C, F, G ), P’ant’chin ( E ); K’alak’p’ant’chi ( Ams., Ven )
Nama kota ini terletak di bawah Rambi ( i ), maka dapat di duga bahwa P’ant’chi terletak di pantai barat semenanjung sebelah utara atau selatan Rambi ( i ) . P’ant’chi merupakan sebuah kotamaritim dan pelabuhan.
14. Yala ( A, B, Ams., C, E, Ven., G ); Hala ( X ); Halay ( F )
15. K’ala ( A, X, B, Ams., C, E, Ven, F, G )
16. Kakoule ( A, X, B, Ams., C, E, Ven., F, G )
Ketiga daerah ini terletak di daerah yang sama, tidak jauh dari ketiga tempat yang di sebut sebelumnya Rambi ( i ) dan lokasinya di duga di Semenanjung Melayu.
Nama Sumatra berasal dari nama kerajaan “samudra” , sebuah kota yang didirikan oleh Marah Silu alias Malikul Saleh menurut hikayat raja-raja pasai dan sejarah melayu. Marah Silu telah mendirikan kota pasai untuk anak sulungnya, Maliku’l Tahir. Kota pasai ini diduga terletak dibagian hilir seberang sungai pasai dan disana dia menaiki tahta.Kelihatannya pasai terletak agak di pedalaman, karena Malikul Mansur, yang kesalahannya adalah menculik salah seorang perempuan dari istana abangnya, melewatinya ketika pulang dari pantai.
Menurut hikayat raja raja pasai dan sejarah melayu, Marah-silu mendirikan samudra dan pasai sesudah menaiki takhta dan menyingkirkan seorang sultan, yaitu Sultan Malikul Nasar. Sebelumnya ia berada di semerlanga, di Beruana dan akhirnya di Buloh Telang di bagian hulu sungai Peusagan, dimana dia mulai menonjol.
Kota lewang adalah kota yang hanya tercatat dalam golongan dua. Hipotesis ini diperkuat oleh suatu alas an lain X dan F mencatat bahwa lewang adalah sebuah tempat yang mengekspor kamper dan informasi ini tidak sesuai untuk sebuah tempat dipedalaman, misalnya di Padang Lawas. Dengan demikian, lokasi lewang perlu dicari sekaligus dengan membandingkan keduanya. Kemungkinan besar kota yang berkaitan dengannya terletak di hulu sungai pantai atau Barumun, sebelah selatan,dimana mungkin juga terdapat sebuah kapalan bongkar muat kapal.
Untuk sementara, pembahasan sebagian dari teks nama kota-kota hindia dan kawasan pinggiran Persia membawa pada dua kesimpulan. Diantara Ceylon dan cina, kawasan yang dideskripsikan dengan nama Oskegetin, Bumi Emas yang dikuasai Raja orang Zabedj, dapat diidentifikasi dengan sriwijaya. Sriwijaya menguasai kedua pantai serta pelayaran di Selat Malaka.Sejalan dengan berkembangnya dominasi sebuah kekuasaan maritime seperti sriwijaya, terbentuk pula sebuah laut tengah di Asia yang memiliki suatu system ekonomi dan suatu kebudayaanyang disertai suatu sistem politik, social dan agama.
Ini menunjukkan dengan jelas kepadatan jaringan hubungan menjadikan laut ini sebagai suatu kesatuan dan betapa penting integrasi jaringan pelayaran dan perdagangan jarak jauh di kawasan ini.Sejarah sriwijaya sukar untuk direkontruksikan berdasarkan data arkeologi epigrafi dan sastra yang kadang-kadang terperinci, tetapi pada umumnya terpenggal-penggal. Selain itu keanekaragaman masyarakat yang menjalankan perdagangan di india, nusantara dan cina lebih luas dari yang dibayangkan pada umumnya. Orang Kristen khususnya penganut aliran Nestorianisme dan orang Armenia berperan penting.Pada abad ke-9 M, uskup dari Syria yang dkirim ke kullam ditugaskan untuk melindungi orang-orang Kristen dan yahudi setempat serta mengawasi ukuran panjang dan berat.Orang Armenia tidak berasal dari Armenia saja.Pada awal abad ke-11 M, Etienne Asoghik dari Taron mencatat adanya kumpulan orrang Armenia di Segestan.Sudah diketahui bahwa orang Armenia ikut serta dalam perdagangan di Asia antara abad ke-16 dan abad ke-18.
KUMPULAN RUJUKAN CINA YANG MUNGKIN BERKAITAN DENGAN DAERAH BARUS
(DARI DINASTI TANG SAMPAI DINASTI MING)
Tujuan artikel ini adalah untuk merangkum rujukan cina yang mungkin berkaitan dengan daerah Barus. Ditujukan kepada beberapa nama tempat awal yang terdapat dalam sumber-sumber yang ditulis pada masa Dinasti Tang atau yang berkaitan dengannya. Artikel ini tidak bertujuan memecahkan semua masalah yang berkaitan dengan sejarah penulisan setiap sumber atau memberi kesimpulan yang jauh berbeda dari kesimpulan peneliti terdahulu.
Sumber – sumber Awal
Polushi, Polu, dan Poli
Ada dua tokoh cina bernama Yi Jing ( 635 – 713 M ) dan Jia Dan ( 730 – 805 M ) yang menghasilkan dua karya yaitu Nanhai Jigui neifa Zhuandan Da Tang Xiyu qiu Fau gao seng Zhuan. Kedua karya ini mengandung beberapa nama tempat, termasuk Polushi zhou dan Poli zhou di dalam teks pertama dan kedua.
Nama-Nama Lain
Perdebatan di atas membawa kemungkinan bahwa Poli dan Barus merupakan nama dua tempat yang berbeda.namuntidak memberikan jalan keluar tentang lokasi poli sendiri . Nama tempat lain seperti Boli, Poluo, Poluozhou, Polou. Boli misalnya sebuah ensiklopedia Dinasti Song yang mengandung sebuah rujukan yang tidak jelas tentang kronik-kronik Tang. Beberapa peneliti juga berpendapat bahwa Poluo yang disebut dalam sumber sebelum Dinasti Ming lain dari Poluo yang disebut dalam sumber kemudian. Singkatnya, Poluo, Boli dan nama lain masih menjadi tanda Tanya, seperti halnya juga kesamaan antara semua tempat ini dengan Poli. hal lain yang banyak menarik para peneliti adalah nama langpolusi .di komplilasikan sesama dinastisong menyebutkan bahwa "seiwijaya adalah kerajan kembar .akhirnyalangpolusi di kaitkan juga dengan nama Louposi yang dicatat sesama Dinasti Yuan .
Teks-teks Dinasti Song Hingga Dinasti Ming
Nama pertama yang akan dibahas adalah Binsu.nama ini disebut dalam Zhunfan zhi (1225),karya Zaho Rugua di mana di sebut bahwa kamper berasal dari borneo atu binsu . Binsu (silabel pertama menjadi ban dalam bahasa kanton) biasanya diperkirrakan sama dengan pancur (juga ditulis “pansur”). Fansur disebut juga dalam beberapa sumber berbahasa Arab dari Abad pertengahan dan hampir semua penulis modern menyamakannya dengan Barus .
Banzu merupakan tempat penting yang muncul untuk pertama kalinya dalam karya terkenal Wan Duyuan yang berjudul Daoyi Zhilue ( 1349 / 50 M ). Susah untuk memasttikan bahwa Banzu adalah Pancur/ Fansur seperti yang telah di sarankan oleh beberapa penulis.Dari beberapa sumber di ketahui bahwa Banzu terletak di Singapura.
Nama pertama yang akan dibahas adalah Binsu. Dimana disebut bahwa kamper berasal dari Borneo dan Binsu. Binsu (silabel pertama menjadi ban dalam bahasa kanton) biasanya diperkirrakan sama dengan pancur (juga ditulis “pansur”). Fansur disebut juga dalam beberapa sumber berbahasa Arab dari Abad pertengahan dan hampir semua penulis
Hubungan resmi antara Pancur/Fansur/Barus dan Dinasti Ming mungkin hanya dibina melalui seorang utusan.Sumber Ming shilu mecatat pada hari yang kelima bulan kesepuluh tahun ketiga di bawah kekuasaan Maharaja Yongle (27 oktober 1405).Ming shilu merupakan sebuah kumpulandokumen resmi yang dikomplikasikan secara bertahap. Waktu keberangkatan serta perjalanan utusan Ming yang dikirim ke Fansu’er tidak tercatat dalam ming shilu. Sumber-sumber lebih awal yang ditulis antara Ming shilu dan ming shi, tidak membawa informasi tambahan mengenai hal ini.
Sumber-sumber Dinasti Ming yang Lain
Sudah diketahui umum bahwa perebutan Malaka oleh portugis pada tahun 1511 mengakibatkan perubahan beberapa jalur maritime diseluruh nusantara. Hanya ada satu aspek relevan orang Gujarati kebanyakan dari orang Cina dan pedagang lain, yang tidak diperbolehkan masuk Malaka setelah tahun 1511, mencari emporia dan peluang perdagangan yang baru. Pedagang cina yang tinggal disekitar teluk Bengala-Duarte Barbosa mencatat keberadaaan mereka disana mungkin juga berpendapat demikian, dengan menggunakan jalur melalui Aceh dan Barus agar dapat meneruskan hubungan dengan pedagang-pedagang lain di bagian utara Jawa, dan hingga ke kampong halaman mereka di Fujian.
Kesimpulan
Paragraf-paragraf diatas menunjukkan bahwa terdapat empat nama tempat semasa Dinasti Tang dan sebelumnya yang mungkin mewakili sebuah nama seperti Barus, Poluosuo, polu, Polushi dan Polu. Terdapat informasi yang lebih mengherankan ahli geografi Arab mulai menyebut nama Fansur pada abad ke-9 M. seperti yang telah ditunjukkan oleh Surbbarayalu dalam buku ini berbahasa Tamil Varocu sudah dapat dipastikan. Ini mendukung bahwa pedagang Tamil menjalankan perdagangan di daerah Barus pada abad pertengahan.
Tiga penjelasan yang berbeda dapat diketengahkan disini, pertama, penelitian dahulu mengatakan bahwa perubahan nama terjadi pada periode ini, dimana Barus sekarang disebut Barus untuk pertama kalinya, tetapi ahli geografi Arab dan Cina terus menggunakan nama lama. Kedua, nama Barus yang terdapat dalam nagarakertagama merujuk pada sebuah lokasi lain, mungkin tempat atau daerah yang sama yang mewakili. Dengan demikian nama modern Barus lokasi Barus sekarang lebih muda. Ketiga nama Barus disebut Fansur oleh orang arab. Secara kebetulan sebutan lokal nama Barus muncul untuk pert5ama kalinya dalam nagarakertamangu. Jika hipotesis ini benar makan terdapat tiga kemungkinan, (a) pengembara cina awal menggunakan berbagai nama dengan p sebagai bunyi pertama sebagai transkripsi sebutan lokal Barus, kemudian mereka memilih nama Pancur (b) atau kemungkinan Barus di dalam nagarakertamanga memang Barus, sedangkan berbahasa cina awal yang berawalan p mewakili lokasi lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar